Sunday, January 14, 2018

Seperti Ini Keadaan Sang Isteri dari Pengantin Pingsan Usai Peluk Mantan


Sulawesi, Insiden pengantin pria Noki (20), yang pingsan saat memeluk sang mantan Novi dihari resepsi pernikahan nya dengan Musriani menjadi viral, setelah salah seorang tamu memposting video nya di Media Sosial. Hal itu tidak lantas membuat sang isteri Noki berkecil hati, meskipun harus menyaksikan adengan pelukan dengan mantan pacar yang berujung insiden pingsan. “Saya lihat wajah Novi cantik sekali saat itu, bercahaya. Saya saja terhipnotis apalagi suamiku,” ujar perempuan yang karib disapa Anhy itu, saat ditemui sejumlah wartawan dikediamannya di Jalan Srikaya Sengkang, Kecamatan Tempe, Kabupaten Wajo, Sulsel. Anhy bahkan balik memuji mantan kekasih suaminya itu. Kata dia, tak ada rasa kesal dirasakan meski Novi telah mencuri perhatian tamu undangan di hari spesialnya itu. “Pokoknya cantik mungkin semua tamu juga bilang begitu. Tapi saya juga tidak tahu kenapa suamiku, saya lihat mukanya jelek saat itu,” tuturnya dengan lugu. Lebih jauh Anhy mengatakan, sejak awal dirinya sudah mengetahui mengenai hubungan suaminya dengan Novi. Nokies dan Novi disebut gagal menikah karena tak mendapat restu dari pihak keluarga Novi. Namun Anhy tidak menyangka suaminya nekat berlari dan memeluk sang mantan pujaan hati saat menyanyikan lagu `Balo Lipa` hingga akhirnya pingsan. Meski demikian, Anhy berani menjamin peristiwa tersebut tak akan mempengaruhi hubungannya dengan Nokies. “Saya akan tetap cinta sama suami, tidak akan goyah. 100 persen full,” ujarnya. GusR-sumber Klikwajo.com

Saturday, January 13, 2018

Beras Impor ! Bencana Bagi Petani Grobogan


Grobogan-Cakrawalaonline, Saat ini petani bisa menikmati jaman keemasan, karena saat panen harga gabah pada posisi naik, yakni dengan harga RP. 5 600 perkilogram. Namun sayang bulan madu petani tersebut terancam sirna ketika pemerintah akan melakukan impor beras. Tentu saja impor beras akan menjadi bencana bagi mereka, kebahagiaan petani berubah menjadi keresahan. Karena harga beras akan anjlok ! 

Bencana tersebut muncul saat Kementerian Perdagangan akan mengimpor beras sebanyak 500 ribu ton, dengan dalih untuk menjaga stok dan harga beras yang saat ini melonjak di pasaran. Rencananya, akan sampai di Indonesia akhir Januari 2018 ini. 

Seperti yang dikeluhkan oleh Parmin (40) seorang petani warga desa Ngeluk kecamatan Penawangan kepada Cakrawala saat panen di sawah. "Waduh tentu akan berakibat fatal bagi petani, jika pemerintah benar-benar jadi impor beras. Karena beras impor bisa merusak harga gabah di tingkat petani", teriaknya sambil menata karung yang berisi gabah. 

Menanggapi hal ini Dr. Sunanto SST MP kabid Tanaman pangan dinas Pertanian kabupaten Grobogan saat dikonfirmasi Cakrawala beberapa waktu lalu menjelaskan bahwa petani Grobogan saat ini sudah mengalami peningkatan taraf hidupnya. "Di kabupaten Grobogan lahan sawah untuk padi seluas 82700 Ha, maka jika harga beras bisa stabil tinggi akan berpengaruh juga kepada sektor yang lain. Karena perekonomian di Grobogan sangat dipengaruhi oleh pertanian." tutur pejabat kalem ini. Ng

Maling Helm di SMKN 1 Purwodadi Terekam CCTV

Kejadian di SMKN 1 Purwodadi saat jam pelajaran


https://youtu.be/wta2mp5Ov_U

Friday, January 12, 2018

Usir Batorokarang di Bekas Lokasi kecelakaan, Hari Ini Warga Wolo Lakukan Istighotsah


Grobogan-Cakrawalaonline, Dilokasi bekas kecelakaan antara truck engkel dengan sepeda motor beberapa waktu lalu menjadikan trauma tersendiri bagi masyarakat sekitarnya, terutama bagi warga desa Wolo. Berbagai spekulasi pun berkembang, ditempat tersebut ada penunggunya berupa Batorokarang dan yang semacamnya. Untuk mendoakan para korban kecelakaan Wolo yang hari ini genap 7 hari, maka warga desa Wolo kecamatan Penawangan menyelenggarakan Istigosah tepat di lokasi jalan Penawangan-Truko. Kegiatan doa bersama yang dimotori oleh Ahmad Supriyono Kades Wolo ini akan mengundang beberapa keluarga korban warga desa Sambung maupun masyarakat desa Wolo. Kepada Cakrawala Kades Wolo menjelaskan bahwa pihaknya akan mengundang Bupati Grobogan maupun beberapa anggota DPRD maupun pihak kepolisian. "Hal ini dimaksudkan untuk membersihkan tempat ini dari kekuatan jahat yang tidak tampak. Dan bermaksud membuang sial yang berada di lokasi ini" "Karena kecelakaan sering terjadi ditempat ini pada titik yang sama. Maka saya menduga bahwa di tempat ini ada sesuatu yang harus dibersihkan. Mengenai Batara Karang atau yang semacamnya saya tidak bisa menjelaskan lebih lanjut. Sebagai pengisi acara nanti adalah Pak Nursahid Asst 1." Semoga tidak ada korban lagi ditempat tersebut, dan masyarakat bisa tentram dan aman. Ng-Mif

Lambang Pendidikan Dibiarkan Rusak


Pemalang - Cakrawalaonline, Bertahun-tahun lambang pendidikan "Tut Wuri Handayani" yang berada di pagar tembok sebelah Timur dalam komplek kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Pemalang, dibiarkan rusak(bentuknya sudah tak sesuai lagi dengan lambang pendidikan yang sebenarnya). 

Berulang kali cakrawalaonline hendak mengkonfirmasi hal itu pada pihak dindikbud, baik via sms maupun datang langsung ke kantor dindikbud. setempat, namun Kepala Dindikbud, M. Arifin tidak bersedia ditemui. Jika di-sms selalu dijawab sedang sibuk(rapat atau keluar kota). 

Begitupun saat cakrawalaonline datang ke kantornya, Arifin melalui petugas penerima tamu berdalih sedang sibuk. "Maaf, bapak sedang sibuk... bapak berpesan, anda bertemu kasubag.tu saja ya (dikira cakrawalaonline ingin meminta uang seperti sering dilakukan oknum yang mengaku wartawan)...," Ucap "Receptionist" wanita. cakrawalaonline mengurungkan niatnya untuk klarifikasi mengenai pembiaran yang dilakukan pihak dindikbud. terhadap lambang pendidikan, sehingga lambang "Tut Wuri Handayani" ini nampak makin rusak dan tak terurus. Setelah sekian lama, cakrawalaonline kembali ke kantor dindikbud. cakrawalaonline bermaksud menemui Kepala Dindikbud, tapi seperti biasa Arifin tidak bisa ditemui. cakrawalaonline pun berinisiatif menemui bagian umum pada dindikbud. Ketika cakrawalaonline menanyakan apakah jika ada kerusakan seperti lambang pendidikan, termasuk kewenangannya, Kabag. Umum dindikbud, Sugiyono, mengiyakan. "Iya itu termasuk wewenang saya...," Jawabnya. Selanjutnya cakrawalaonline langsung mengemukakan rusaknya lambang pendidikan sambil menunjukan keberadaan lambang "Tut Wuri Handayani" yang letaknya persis di sebelah Timur ruang kerja Kabag. Umum, sehingga melalui jendela pun sangat jelas terlihat. "Nggak ada rencana untuk perbaikan...ya dibiarkan seperti itu...," Ujarnya. Slamet SBL

Susana Sulistyowati Figur Wanita Inspiratif Yang Humanis


Cakrawalaonline, Lebih dekat dengan figur wanita inspriratif satu ini, yakni Susana Sulistiyowati ( Susan ) yang lahir di Yogyakarta 17 November 1974 lalu. Segar namun hangat, lembut tetapi tegas. Sangat populer di berbagai kalangan hal tersebut terbukti pada tanggal 25 Desember 2017 yang lalu merayakan natal dengan acara berbagi kasih dengan mengundang masyarakat dari berbagai lapisan.

Wanita Susan adalah seorang anggota Kadin dan pengusaha yang bergerak di bidang property diberbagai tempat. Sebagai sosok yang peduli terhadap dunia pendidikan maka beliau juga memiliki yayasan pendidikan Andria yang berada di Jakarta. Sebagai seorang pengusaha handal sarjana Manajemen Keuangan ini juga mengembangkan usaha perhotelan di Yogyakarta. Ada 2 tempat hotel yang dikelola.

Ditengah-tengah kesibukannya wanita tangguh ini masih sempat mengabdikan hidupnya terhadap kemanusiaan atau humanis. Maka pada tanggal 5 Januari 2018 pihaknya mengadakan kegiatan sosial bersama anak-anak kurang mampu di Jakarta.



Untuk menyesuaikan dengan kegiatan di Kadin tokoh masyarakat ini sengaja berdomisili di Jakarta Timur supaya bisa berpartisipasi di setiap kegiatan Kadin. Pihaknya selalu bergabung dalam kunjungan kerja ke luar negeri dalam pemerintahan presiden Jokowi. Semboyan hidupnya adalah "Hidup itu saling melengkapi dari kekurangan kita. Dan saling berbagi dari kelebihan kita ". Titin-Ng

Thursday, January 11, 2018

Setelah Ditusuk dan Dipukul Sumiyati TKI Asal Grobogan Terus Dibakar Hidup-hidup Oleh Majikannya



Grobogan- CakraHOT, Kembali nasib TKI asal Grobogan berujung maut. Kisah pilu ini menimpa Sumiyat warga desa Kramat Penawangan yang meninggal dunia di tangan majikannya di Arab Saudi. Seperti yang muat oleh media nasional Kompas.com dibawah ini. Beberapa lembar foto cetak berwarna hasil jepretan kamera jadul mengabadikan sosok Sumiyati, anak kedua hasil buah cinta Maryono Wirodirjo (62) dan Sunarsih (57).


Meski jumlahnya tak banyak, setidaknya foto yang dipajang di dalam album itu menyimpan sejuta memori yang tak terlupakan bagi keluarga kecil Sumiyati di Dusun Galeh, Desa Kramat, Kecamatan Penawangan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. "Istri saya paling rajin membersihkan debu yang menempel di album foto Sumiyati. Selalu saja kami tak kuasa menahan tangis kalau melihat foto Sumiyati. Begitu kuat kenangan dari Sumiyati di hati kami," tutur Mbah Maryono, sapaannya, saat ditemui Kompas.com di rumahnya, Rabu (10/1/2018). Di rumah sederhana berdinding papan dan beralaskan tanah inilah Sumiyati menghabiskan masa kecilnya sebagai seorang anak petani. Hidup di lingkungan keluarga dengan kondisi perekonomian yang pas-pasan perlahan membangun kepribadian Sumiyati menjadi gadis yang bersahaja. Pendidikan karakter Sumiyati ditempa sejak dasar di sekolah berbasis agama atau madrasah.

Sumiyati pun tumbuh berkembang sebagai gadis yang religius. Putri kedua dari tiga bersaudara itu dikenal tekun shalat dan mengaji. Dia tak pernah menuntut keinginan di luar batas kemampuan finansial orangtua, justru dia dengan senang hati membantu orangtuanya terjun ke sawah. Sikap dan perilaku positif yang ditunjukkan itulah yang membuat potret Sumiyati memperoleh tempat istimewa di benak keluarga. "Sumiyati anak yang baik, penutur, pendiam, dan tidak neko-neko. Shalat dan mengaji tak pernah luput, dengan keluarga begitu baik dan ringan tangan," ungkap Mbah Maryono. Bertaruh Nasib ke Arab Saudi Selepas menghabiskan waktu menuntut ilmu di madrasah tsanawiyah di kampung halamannya, Sumiyati tidak melanjutkan ke jenjang SMA. Karena keterbatasan ekonomi, dia memilih membantu orangtuanya bertani di sawah. Pada tahun 2000, Sumiyati yang lahir pada 1 Maret 1984 tersebut menikah dengan lelaki idaman yang juga tetangganya, Sukardi. Pernikahannya dengan pekerja bangunan tersebut dianugerahi seorang putra yang diberi nama Muhammad Rozi. Hingga suatu ketika, hasrat Sumiyati untuk mengubah strata hidup mengantarkannya untuk bertaruh nasib ke negeri orang. Dia tergiur dengan nasib para tetangganya yang sukses setelah menjalani profesi sebagai pahlawan devisa negara di Arab Saudi. Pada Mei 2004 melalui penyaluran Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) PT AMRI Margatama, Jakarta, Sumiyati akhirnya terbang ke Arab Saudi bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Saat ditinggal hijrah menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi, anak semata wayangnya masih berumur dua tahun. "Mbak nitip Bapak, Emak, dan Rozi ya, Dik. Mbak tidak akan pulang sebelum sukses," ujar Yuliatun (29), adik Sumiyati, menirukan pesan kakaknya itu sebelum hengkang ke Arab Saudi.


Nyawa Dibayar Nyawa

 Satu tahun berlalu, Sumiyati masih aktif berkomunikasi dengan keluarga melalui sambungan telepon. Gaji selama setahun yang disisihkan Sumiyati sebesar Rp 13 juta dikirimkan kepada keluarganya untuk membantu menyokong hidup. Kekhawatiran mulai menyelimuti keluarga. Selama bertahun-tahun Sumiyati tidak pernah ada kabarnya. Pihak keluarga pun kesulitan mengakses Sumiyati. Sampai akhirnya bunyi dering ponsel dari nomor berkode Jakarta itu mengawali hancurnya asa yang menggunung bagi keluarga Sumiyati di desa terpencil tersebut. "Telepon dari perusahaan penyalur di Jakarta menginformasikan bahwa Mbak Sumiyati meninggal dunia karena dibunuh majikannya. Kabar pada tahun 2010 itu kami terima setelah tiga bulan Mbak Sumiyati meninggal dunia. Seketika kami berteriak, menangis, dan shock. Kami tak habis pikir, Mbak Sumiyati yang kami cintai nasibnya berakhir tragis," kata Yuliatun. Hingga sejauh ini, kasus pembunuhan Sumiyati masih dalam persidangan oleh pihak pengadilan setempat. Pihak keluarga berharap majelis hakim menjatuhkan hukuman yang setimpal kepada pelaku yang menghilangkan nyawa Sumiyati. Hak-hak yang sudah sepatutnya diterima pihak keluarga Sumiyati supaya segera diserahkan. "Utang nyawa dibayar nyawa. Kami minta hukum di Arab Saudi bisa berlaku seadil-adilnya, dan kami mohon kepada Bapak Presiden Jokowi mengawal kasus ini. Karena sudah bertahun-tahun, kasus ini tidak ada kabarnya," ucap Sunarsih, ibunda Sumiyati.

Sumiyati Tewas Dianiaya


Ketua Lembaga Pemerhati dan Advokasi TKI, Jawa Tengah, Harso Mulyono menyampaikan, pihaknya merupakan tim pendamping hukum kasus Sumiyati. Data yang diterima pihaknya dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah, Arab Saudi, menyebutkan bahwa Sumiyati tewas pada 11 Februari 2010 di Kota Najran, Jeddah. Tanpa sebab yang jelas, Sumiyati dianiaya secara sadis oleh majikan perempuannya, Sofiah binti Ahmad Ibrahin Assiri. Sumiyati kemudian dibakar hidup-hidup dan jasadnya yang hangus dibiarkan begitu saja di lantai atas rumah. Terbongkarnya kasus itu, sambung Harso, setelah keluarga pihak majikan lelaki melaporkan kejanggalan itu kepada otoritas Arab Saudi. Dari kasus ini, pengadilan menyidangkan dua terdakwa, yaitu majikan perempuan Sumiyati, Sofiah binti Ahmad Ibrahin Assiri sebagai seorang ibu rumah tangga dan pelaku pembunuhan Sumiyati; serta majikan lelaki Sumiyati, Amir Muhammad bin Amir Al Assiri, pejabat publik di Jeddah, yang dianggap terlibat karena membiarkan kasus ini terjadi. "Jasad Sumiyati hangus sehingga dengan pertimbangan segala macam dari keluarga dikebumikan di Arab Saudi. Ditusuk, dipukul, dan dibakar oleh majikan perempuan. Sungguh biadab pelakunya yang beralasan jengkel karena ditagih uang gaji oleh Sumiyati," kata Harso. Menurut dia, pihaknya terus mendorong semua pihak untuk ikut mengawal kasus Sumiyati. KJRI di Jeddah, kata dia, juga sudah berupaya sepenuh hati mengawal persidangan kasus Sumiyati yang belum juga final. "Intervensi pihak asing ke dalam proses pengadilan di negara mana pun tidak diperkenankan. Itu yang jadi kendala. Yang jelas KJRI terus mengawal. Kami mendorong semua pihak supaya hak ahli waris keluarga Sumiyati dipenuhi, termasuk pembayaran sisa gaji hampir lima tahun atau Rp 120 juta," ujar Harso. Dia menambahkan, harapan keluarga Sumiyati adalah hukum syariat Islam di Arab Saudi bisa ditegakkan. Pihak keluarga menghendaki hukum Qisas, istilahnya dalam hukum Islam berarti pembalasan (memberi hukuman yang setimpal), mirip dengan istilah "utang nyawa dibayar nyawa". Dalam kasus pembunuhan, hukum Qisas memberikan hak kepada keluarga korban untuk meminta hukuman mati kepada pembunuh. "Kami minta hukum di Arab Saudi tegas sebagaimana diberlakukannya hukuman mati kepada raja Arab Saudi, Turki bin Saud al-Kabir, pada 2016 dan salah satu kasus paling mengemuka di kalangan kerajaan adalah ketika Faisal bin Musaid al Saud, yang membunuh pamannya, Raja Faisal, akhirnya dieksekusi pada 1975," tutur Harso. Ng-sumber Kompas.com