Tuesday, November 28, 2017

LIMA BELAS JUTA UNTUK MENGHILANGKAN NASIB SIAL


Biro DIY-Gunungkidul, Cakrahot, Hanya dengan biaya lima belas juta rupiah untuk menghilangkan nasib sial. Demikian diungkapkan Karyono pamong desa Monggol dalam menangani nasib sial yang menyerang anak yang kena sukerto (bebendu). Bukan nomor duakan beliau sebagai pamong desa Monggol, tapi karena profesi itu telah dijalankan sejak lama sebelum jadi pamong. Juga karena punya tim tersendiri, sehingga Karyono sering muncul di daerah lain karena diundang untuk upacara buang sial. Orang yang kena sukerto yaitu misalnya anak kembar, kedono kedini, julung pujut, anak dimakan macan dan lainnya. Itu memang nasib, katanya, tetapi nasib itu bisa diperbaiki dengan acara buang sial itu. Acara tersebut sudah diberlakukan banyak orang dan sudah lama, tetapi kadang orang tidak peduli dengan anak yang bernasib seperti tersebut. “Bila nasib tidak diperbaiki yang kedepan nasibnya jelek,” ungkap karyono singkat. Dengan demikian acara orang Jawa yang sudah turun temurun ini diwarisi. Sehingga nasib anak yang kurang baik bisa diperbaiki nasibnya. Diharapkan kedepan anak anak Indonesia akan baik nasibnya dan hidup tentram hingga masa depan yang lebih baik. Acara tersebut mesti dibarengi dengan upacara adat Jawa, wajar ini karena kebudayaan Jawa sudah lama kadang tidak diperhatikan oleh masyarakat. Sehingga sekarang ini banyak anak anak yang kurang baik nasibnya. Apa boleh buat, demikian ungkap bagi mereka yang tidak peduli dengan anak dan mereka biasanya tidak mengerti bahwa nasib anak seperti tersebut di atas sangat bisa diperbaiki. Itu semua demi tercapai generasi kedepan yang lebih baik untuk mencapai anak Indonesia yang sehat jasmani, rokhani dan sehat sosial. Tiga sehat itu akan menyelimuti orang orang di Indonesia biasanya. Tapi itu semua juga tidak dimengerti oleh orang banyak yang kadang cuek terhadap nasip anak anaknya. Tentang kebudayaan Jawa memang harus dileluri atau dipertahankan agar generasi semakin baik. Bersama pagelaran wayang, ketoprak, karawitan dan kesenian lainnya acara itu digelar. Karyono masih menggunakan biaya yang sangat murah, sehingga belakangan ini Karyono sering keluar daerah beserta tim karawitan beserta sinden dan tokoh spiritual untuk mengadakan upacara buang sial bagi anak yang ketaman sukerto (bebendu) dari nasib. (Sab)

0 comments:

Post a Comment