Wednesday, January 24, 2018

Rusak Generasi Bangsa : Ada 347 Pernikahan Anak di Bawah Umur Pemicunya Seks Bebas




SEMARANG- Kurangnya pendampingan orang tua terhadap anak atau tidak tahu menahunya pergaulan anak dilingkungan rumah dan diluar rumah. kasus video asusila yang menggemparkan Kabupaten Semarang karena melibatkan pelajar kelas IX SMP dan kelas XI SMK juga mengundang keprihatinan Mundjirin, Bupati Semarang.
Menurutnya, perbuatan tersebut dilakukan oleh dua orang yang masih di bawah umur dan terjadi di daerah pedesaan.
Kasus tersebut membuatnya mengusulkan adanya Peraturan Desa (Perdes) guna melakukan pengawasan pada anak-anak usia sekolah.
"Pengawasan anak tak hanya menjadi tanggung jawab sekolah atau guru, namun juga menjadi tanggung jawab pihak keluarga dan masyarakat," terangnya saat ditemui di ruangannya pada Rabu (24/1) sore.
Meski begitu, ia juga mendorong pihak sekolah agar turut menyalurkan energi siswa pada hal positif.
Ekstrakurikuler di sekolah yang dilaksanakan di luar jam belajar siswa juga memberikan bekal pendidikan karakter dan pendidikan agama bagi anak agar terhindar dari aktivitas negatif, seperti narkoba dan seks pranikah.
Agar energi siswa lebih terukur dan terawasi, ia mewacanakan adanya buku aktivitas siswa yang akan mencatat aktivitas siswa sehari-hari dan dikumpulkan di sekolah keesokan harinya.
Mundjirin juga mewacanakan kepada pemimpin dan pengasuh pondok pesantren dan pada pendidikan kerohanian lainnya untuk mengajarkan nilai-nilai keagamaan pada anak secara intensif.
Bila perlu sejak dini seorang anak dididik tentang agama.
Tak hanya kasus video asusila yang membuatnya prihatin, angka aktivitas seksual pada anak di bawah umur di Kabupaten Semarang juga cukup tinggi.
Data tahun 2016 disebutkan 347 anak di bawah umur melaksanakan pernikahan yang diakibatkan seks pranikah.
"Belum lama ini terdapat kasus kehamilan pada anak SMP yang disangka oleh keluarga merupakan penyakit," pungkasnya. (*)
SHOL-TRIBUN


0 comments:

Post a Comment